Friday, March 6, 2009

Puisi Seorang Mujahid Salju


Rabbi…

Telah aku berdoa pada-Mu,

Dalam hampir tiap-tiap waktuku,

Aku berkata pada-Mu,

Cabutlah segala rinduku, kecuali kerinduan pada-Mu...


Dalam simpuh dan sujudku,

Selalu aku mengadu,

Jangan gugurkan pahalaku,

Hanya kerana sekecil rindu yang mengganggu...


Robbie…

Jika Kau takdirkan peluru menembus ulu hatiku,

Dan lalu aku menjumpai-Mu,

Terimalah ke-syahidanku,

Telah aku bertaubat, atas segala kenangan yang kuingat...


Ini ada peluru, ini ada mesin gun,

Aku rindu Ayah Bunda, aku rindu Si Dia,

Tetapi aku lebih rindu pada-Mu...


Saat musim salju tiba,

Maka rindu pun menjelma,

La hawla wala quwwata illa billah…(Bob_84)

Aku Melawan Teroris- Liku-liku Hidup (Imam Samudera)


Intifadhah Palestina dan jihad Afghanistan membuat diriku benar-benar geram dan gundah. Aku ingin segera selesai sekolah dan mencari kerja untuk mendapatkan ongkos ke Afghanistan. Tapi ya bagaimana, untuk beli perangko kartu lebaran dan buku diary untuk kukirim ke Ketua OSIS-ku saja, aku harus menjebol tabunganku hasil beasiswa dari Depdikbud waktu itu. Ketua OSIS-ku waktu itu, kini menjadi Perdana Menteri di kerajaan tentara dan mata air di surga (nama putraku berarti Tentara Allah, dan nama putriku berarti mata air di surga). Dan yang menjadi Kaisar atau Rajanya adalah Imam Samudra.
Alhamdulillah, Allah Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. Tiga tahun kemudian doaku terkabul. Tahun 1990, aku lulus MAN (Madrasah Aliyah Negeri) Cikulur, Serang. Di sebuah masjid Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, tepatnya masjid Al Furqan, jalan Kramat Raya 45, Jakarta, aku mendengarkan ceramah dari seorang da’i yang kurang aku kenal namanya. Saat itu juga aku berjumpa dengan seseorang bernama Jabir (syahid dalam peristiwa bom Antapani Bandung). Dengan bahasa Indo-Sunda, kami berkenalan. Kemudian entah bagaimana ceritanya, pembicaraan saat sampai pada topik jihad. Kuceritakan buku-buku jihad yang pernah kubaca, ia nampak interes dan antusias. Setelah dia (agak) mengorek latar belakangku, seingatku waktu itu, dia berkata, “Tahun ini ada pemberangkatan, mau ikut nggak?” Untuk memperkuat dugaanku lalu kutanya, “Maksudnya ke Afghanistan?” Dia hanya menjawab, “Dik, udah dech, cepetan cari ongkos sekitar Rp 300 ribu. Insya Allah kalau antum ikhlas, Allah akan memudahkan urusan antum.”
Ciaoooo!!! Segera aku pamit dan kembali ke rumah. Ada sedikit sisa tabungan hasil kirim artikel berita ke Panji Masyarakat ditambah pemberian ibunda tercinta. Aku tak terlalu enak meminta uang dari ibuku, tapi apa boleh buat, setelah aku nyatakan bahwa aku akan ke luar negeri, beliau memberikan uang yang aku perlukan. Uang itu hasil usaha menjual jilbab dan busana muslimah yang kadang-kadang kubantu mencarikan bahan-bahannya di Tanah Abang, Jakarta. Jumpa lagi sekitar tiga hari berikutnya dengan Kang Jabir. Setelah mendapatkan paspor Jakarta dalam minggu yang sama, kami ke Dumai dan bermalam sehari. Keesokan harinya, perjalanan dilanjutkan ke Malaka, Malaysia. Pada waktu itu rute Dumai-Malaka terkenal sebagai jalur TKI. Tidak sedikit mereka yang ditolak oleh imigrasi Malaysia, sekalipun mereka melengkapi dengan dokumen resmi dan uang tunjuk (uang jaminan selama tinggal di Malaysia). Karena barangkali aku tidak memiliki tampang TKI, Alhamdulillah, dengan mudah dapat melewati antrian ratusan ‘turis’ Indonesia yang akan ke Malaysia. Tinggal sehari lebih sedikit di Malaysia. Keesokan sorenya kami menuju bandara Subang-Jaya, Selangor Darul-Ehsan. Begitu pesawat MAS (Malaysian Air System) take off, aku baru merasakan benar-benar berat meninggalkan tanah air. Ada perasaan ‘lain’ terhadap mantan Ketua OSIS SMPN-4 angkatan 84/85 Serang. Ok! Lupakan itu. Aku segera teringat ayat ini:


Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya dan Allah tidak memberi petunjuk (hidayah) kepada orang-orang fasiq.”(At-Taubah : 24).
***
Di atas udara dalam pesawat, para kernet udara (stewardest) menawarkan free post card, amplop dan sejilid kecil kertas surat berlogo Malaysian Air System. Sambil mengisi waktu 8 jam flight KL-KHI (Kuala Lumpur-Karachi), kutulis sekeping post card kepada satu-satunya wanita –selain ibu dan saudariku– yang pernah singgah dan akhirnya menetap dalam kehidupanku. Wanita itu adalah mantan Ketua OSIS yang pada saat itu juga baru lulus SMA. Kalau tak salah post card itu ditulisi dengan terjemahan surat Al-Baqarah ayat 214:


Apakah kamu menyangka bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang padamu (cobaan)sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam goncangan/cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.


Alhamdulillah, dengan takdir Allah, paid stamp post card itu akhirnya sampai juga ke tangan Sang Mantan Ketua OSIS, yang kuketahui beberapa saat menjelang pernikahan kami, 1995.
Setelah transit dua jam di Bombay, India, MAS yang kami tumpangi selamat landas di Karachi. Sehari semalam, kami bermalam di maehmon khana (ruang tamu) sebuah masjid Karachi. Perjalanan dilanjutkan ke Peshawar pada awal pagi. Sampai saat ini aku tak tahu apa nama daerah itu, sebuah rumah gaya Paki-Afghan yang sangat sesuai dengan syariat Islam.
Tinggal sehari di situ. Ba’da shubuh esok harinya, perjalanan ke negeri impian para lelaki dilanjutkan. Melewati gunung-gunung yang indah, menumpang bus dengan penumpang sebagian besarnya berbahasa ‘planet’ yang tidak pernah kukenal sama sekali. Sepanjang perjalanan aku yang mengenakan pakaian Afghanis dan menutup seluruh wajahku kecuali mata dengan menggunakan ridah (selimut tipis), tidak mengucapkan sepatah kata pun. Sekali bicara, orang akan tahu siapa aku. Perjalanan sepenuhnya dipimpin oleh Syahid Jabir dan dua orang Arab yang sampai saat ini tak kukenal darimana dan siapa namanya. Menjelang Ashar, dengan berjalan kaki dari perbatasan Pakistan-Afghanistan selama hampir 4 jam, sampailah kami di sebuah camp sederhana yang terkenal dengan sebutan, Muaskar Khilafah. Di situ aku memulai kehidupan yang sama sekali baru dan sangat baru. Kehidupan yang betul-betul bersih sekalipun tidak disebut ‘steril’ 100 persen.
***
Sungguh,satu babak kehidupan baru yang amat membahagiakan.‘Musik’ kami adalah rentetan peluru, ledakan mortar,dan dentuman zigoyak dan da-scha-ka- (anti air craft gun).‘Nyanyian’ kami adalah nasyid-nasyid (sejenis achapella)pembangkit semangat jihad.‘Senandung’ kami adalah lantunan ayat-ayat Al-Qur’anyang tak pernah berhenti selama 24 jam saling bergiliran.Tiada suara wanita, tiada tangis anak kecil,apalagi musik-musik jahiliyah, panggilan setan.

Flat ground yang dikelilingi gunung di empat penjuru itu benar-benar menentramkan hati, benar-benar ‘surga’ bagi para perindu surga kekal di akhirat. Tidak ada seorang pun yang berani datang ke tempat itu kecuali ia benar-benar siap menggadaikan nyawanya di jalan Allah. Tidak ada seorang pun bertahan lama di situ kecuali jika ia telah siap bertarung melawan kaum kafir, baik komunis asli Uni Soviet ataupun komunis northern sebangsa Dustum –yang kini berkoalisi dengan Si Karzai di bawah ketiak Amerika dan para pengecut sekutunya. Mereka yang datang ke tempat ‘aneh’ seperti itu hanyalah mereka yang siap membunuh atau dibunuh kafir, siap berjihad demi menegakkan kalimat Allah. Dan kesiapan mental seperti itu, hanya akan terwujud dengan rahmat dan takdir Allah. Alhamdulillah.
Khost, nama tempat itu. Daun-daun zaitun masih kekal bertahan. Daun-daun caparkat dan cactus Afghan telah luruh, tinggallah duri-duri dan kayunya yang kelak dibakar untuk kayu penghangat dan pemasak. Anor (delima) tak lagi berbuah, runtuh sudah daun-daunnya. Saghol (serigala) melolong di tengah malam. Selapis jaket mesti dikenakan. Begitulah keadaannya saat pertama kali aku tiba. Ya, saat itu musim gugur telah tiba. Purnama kelima dari saat awal aku tiba telah menjelma. Musim gugur hilang sudah. Datanglah penggantinya. Afghanistan menggigil. Satu ketika sepulang belajar, saat aku berbaring di dekat room heater, suara keras bertubu-tubi menimpa atap tendaku, persis seperti bunyi lemparan benda keras. Saudara-saudara Afghan berteriak, “Baraan…, baraan…” Segera Aku longokkan kepalaku keluar tenda. Dan… pletak! Sebongkah benda menjitak kepalaku. Subhanallah.., bongkahan itu ternyata benda keras yang terbuat dari air yang membeku sebesar biji nangka. Dingin rasanya. Jernih warnanya. Es, nama benda itu… Kemudian baru kutahu kalau baraan itu artinya hujan.
Tiga hari kemudian sekitar jam enam pagi kudengar lagi teriakan saudara Afghan, “Baraaf…, baraaf…” Penasaran kujengukkan kepala keluar tenda. Subhanallah…, Salju…, salju…! Saat itu aku benar-benar menjadi ‘anak kecil’. Jika dulu aku suka hujan-hujanan di kampung halaman, maka saat itu aku salju-saljuan. Segera aku melompat keluar tenda menyambut kapas demi kapas salju yang terjun dari pintu-pintu langit. Saudara-saudara Afghan dan Arab hanya cengar-cengir dan cengengesan melihat polahku, tapi aku tak peduli. Ya, di negeriku tidak ada salju. Yang ada hanyalah hujan air, dan setelah itu lahirlah banjir. Menjelang delapan pagi, saat akan memulai rutinitas, gunung-gunung di sekitar kami telah berselimut salju. Puncaknya begitu indah, hampir sama dengan gambar iklan Hazeline Snow. Di sekeliling kami tanah yang dulu berwarna coklat kini memutih, begitu juga pepohonan dan bebatuan. Kata penghuni lama di camp itu, suhu udara mencapai -7 °C (minus tujuh derajat celcius), jauh di bawah titik beku. Aku sendiri tak pernah mengukur. Yang jelas, orang sekurus aku mengenakan sekitar 5 lapis pakaian, dan kadang-kadang 6 lapis jika ditambah jaket wool ala Eropa.
Khost bukanlah kampus biasa. Bukan kampus orang-orang Eropa atau Amerika yang mengisi kehidupan mereka dengan segala kemaksiatan dan kemewahan dunia. Jika mereka kuliah, hanyalah demi kepentingan dunia semata. Khost adalah sekeping tanah di bentangan-bentangan bumi. Sewaktu-waktu, kapan saja, musuh bisa menyerang, menghantar mortar, memuntahkan peluru, lalu terjadilah pertempuran seru. Ajal memang di tangan Allah. Tapi di Khost dan front-front jihad lain di Afghanistan kematian terasa begitu dekat. Musuh ada di segala arah. Maut sewaktu-waktu akan menjemput.
***
Siaga tetap siaga. Waspada tetap waspada. Tetapi ‘indah’ adalah ‘indah’. Main salju bagiku terlalu indah, subhanallah. Umurku saat itu baru menjelang dua puluh. Masih ada tersisa rona-rona jahiliyah. Masih ada guratan-guratan kenangan lama. Tanggal dan harinya lupa sudah. Tetapi yang jelas di malam hari, langit begitu cerah, gemintang begitu indah menantang. Cassiopia, jalinan bintang berbentuk ‘W’ kubidik sebagai sasaran. Nah…, tiba-tiba ingatanku jauh ‘terlempar’ ke alam ‘sana’, ke sebuah benua bernama Asia, terus terlempar ke Asia Tenggara, dan terus ke sebuah negara dengan ibukota bernama Jakarta. Di sebelah baratnya ada kota bernama Kalideres, diteruskan lagi ke arah barat. Satu jam kemudian kan tiba di terminal yang disebut Ciceri. Berjalan saja ke utara yang sekitar 1000 meter. Maka tibalah di sebuah tempat bernama Cinanggung. Ada sebuah rumah, Blok F 140…. Duh, ternyata di situlah rumah seorang wanita yang tempo hari kukirim postcard. Astaghfirullah! Segera kusebut asma-Nya, ada apa ini? Segera kuambil teko kecil berisi air hangat, lalu aku berwudlu, shalat dua rakaat, berbaring. Malam begitu panjang, mata sukar terpejam. Seperti telah kubilang, ‘indah’ adalah tetap ‘indah’, ingin aku berbagi cerita, tapi dengan siapa? Dengan saghol-saghol, dengan atap tenda, atau dengan siapa? Ternyata tidak ada. Ya sudah ‘telan sendiri’ saja. Refleks goresan jahiliyahku kembali timbul. Running text, penggalan syair Ebiet G. Ade pun berkelebat, katanya:


Banyak cerita yang mestinya kau saksikan…Sayang kau tak duduk di sampingku kawan…
Laa ilaha illallah. Astaghfirullahal ‘Azhiim… kembali kusebut asma-asma-Nya.

***
Casio F-44-w di tanganku menunjukkan angka 4 lebih sedikit. The seven brother, rangkaian rasi yang terdiri dari 7 bintang telah mengambil posisinya. Waktu sahur telah tiba, ikhwan-ikhwan yang lain segera kubangunkan. Beberapa potong daging, sedulang nasi minyak Afghanis, 4 sobek roti nan dan sambal kentang yang telah kuhangatkan segera kusajikan. Malam itu memang giliranku sebagai penyaji sahur. Dalam suasana ukhuwah, dengan penuh kesyukuran kami santap rezeki Allah itu. Sedangkan udara di luar sana kian menggigit. Pagi semakin dingin.
Jumat pagi, sinar akhtab (matahari) cukup hangat. Ada sedikit aktivitas yang kami jalankan demi menjaga stabilitas iman dan stamina jasad. Demi maintenance niat-niat suci mencari syahid, menghimpun ridha Allah dan syurga-Nya. Hari itu, dalam salah satu even, Allah mengujiku dengan sedikit luka yang menimpa sebagian lengan dan kakiku. Aku diam, diriku dan Allah yang tahu. Aku berharap semoga hal ini kelak akan menjadi saksi di hari akhirat. Tetapi setelah itu, lagi-lagi sisa-sisa jahiliyahku mencuat, lalu mengalirlah di batinku, Mungkinkah kau masih mengharapkanku…Kini tubuhku penuh dengan luka… Potongan syair dari lagu Tommy J. Pisa yang sempat ngetop di masa aku eS-eM-Pe. Aku seolah-olah berbicara dengan sang mantan Ketua OSIS-ku itu. Suatu hal yang semestinya sangat tidak pantas dialami oleh lelaki yang sedang mengejar bidadari sejati di alam surga nanti. Yang sedang mengejar ridha Allah dan surga-Nya. Sungguh aku tak mengerti mengapa hal seperti itu mesti terjadi dan kualami. Tidak ada faktor pendukung secara lahir, baik dari personal, aktivitas lingkungan, yang dapat memancing kenangan itu hadir kembali. Pada sorenya, segera kuingat pesan Umar bin Khattab, “Hisablah dirimu sendiri sebelum kamu dihisab di akhirat kelak…” Ya, kini aku harus menghitung diri, instrospeksi atas segala apa yang terjadi dan kualami. Aku sangat mengerti bahwa mengingat wanita yang bukan mahram adalah termasuk zina hati. Mengenang masa lalu dengan mantan Ketua OSIS adalah juga termasuk dosa-dosa kecil yang akan mengotori hati. Tetap dosakah jika semua nostalgia itu datang secara surprise, tak dipaksa? Adakalanya kenangan itu tiba-tiba hadir saat mataku tertumbuk huruf Z, atau melihat kacamata. Kenapa? Ebiet G. Ade pasti tahu jawabannya. Teori umum mengatakan bahwa kenangan atau lamunan, biasanya timbul saat kita tidak memiliki kesibukan atau ketika waktu senggang. Tetapi aku tidak, justru kenangan itu timbul di saat-saat aku sibuk, di saat tanganku menyandang kalashinkov, di tengah gelegar mortar, di tengah hujan peluru dan bau mesiu. Saat menghisab diri yang entah untuk kesekian kali, hampir selalu tak ketemu jawaban. Mengadu pada teman sebaya, atau konsultasi pada senior? No! aku bukan tipe seperti itu. “Solve Yourself Problem !” Itu mottoku. Hanya Allah, hanya Allah, dan hanya Allah yang Maha Tahu. Dialah tempat mengadu. Akhirnya… Di musim salju tahun kedua, kujumpa jawabannya. Gerangan apa? “SEBAB AKU ADALAH MANUSIA.”

Tuesday, January 27, 2009







As of 10 PM Eastern time on December 27th, 2008, over 225 Palestinians are confirmed dead as a result of Israel's attack on Hamas controlled Gaza. Israel has laid the blame at Hamas' feet, citing the rocket attacks by Hamas into Israel as the primary reason behind its air strikes on Gaza. While Israel may have been aiming to neutralize Hamas' ability to strike at Israelis, the massive Palestinian casualties, including many women and children dead, virtually guarantee retaliatory suicide attacks by Hamas. The Israelis had to have known that before launching their own air strikes. Why did they launch them then, and in such an overwhelming manner? (1 Israeli has been killed recently by the rockets fired by Hamas - not something to be dismissed, but not to be avenged by 225 lives either). There may be many motives including the desire to inflict a crippling blow on Hamas' infrastructure, to be seen as strong on defense in the upcoming Israeli elections, and the desire to showcase Israel's strength after a less than stellar performance in the recent campaign against Hezbollah. But what may be an un-stated motive is to lay down an early test for Obama. While President-elect Obama has professed his affinity and concern for Israel, as every US politician aspiring to the Presidency had done during the campaign, there are concerns that he (or anyone else) may not be as pro-Israel as the Bush administration was. Even though Obama is not President yet, he will be expected to have a statement or to answer questions related to his views of this attack. This forces Obama to show his hand and either forcefully back Israel, or if he doesn't - then it allows Israel to calibrate its moves in the future keeping in mind how Obama reacts. In either case, Israel gains by doing what it wants to do under the unquestioned patronage of the Bush administration, while calling out Obama on exactly where he stands - when he may not be in a position to have a fully articulated view yet- lets pray for our glory insyallah...

Tuesday, December 23, 2008

Selamat Datang


Blog ini diwujudkan untuk aku melihat dan memberi pendapat tentang negara aku berdasarkan "suara-suara hati rakyat" yang serupa dengan aku. Di harapkan dengan kewujudan blog Suara Malaya ini dapat membantu blogger-blogger lain seperti aku untuk berkongsi pendapat dan meluahkan rasa tentang apa sahaja yang berkaitan dengan kehidupan kita sebagai warga Malaysia....Pendapat yang aku rasakan sesuai akan aku publishkan untuk tatapan para pengunjung blog aku ini......Blog Suara Malaya aku rasakan masih baru dan akan aku kemaskinikan dari semasa ke samasa untuk kepuasan pengunjung.....Aku amat berbesar hati sekiranya menerima apa sahaja pendapat daripada korang dan jangan segan silu untuk menyatakan pandangan dan pendapat korang dalam blog Suara Malaya ini ok....Terima Kasih kerana sudi mengunjungi blog Suara Malaya.....Akhir sekali aku harapkan dengan adanya blog aku ini ia mampu membantu dalam memahami dan menyelesaikan segala isu yang wujud dalam negara kita insyallah........

Saturday, December 20, 2008

Tips Nak jadi Kaya


Memandangkan orang malaysia kita sekarang ni tengah ramai bajet nak jadi jutawan tanpa buat kerja berat. ni gua ada tips untuk korangkepada semua pemain saham yang kurang bernasib baik, asyik rugii je kan?? ni gua ada benda “BAIK” untuk anda baca
tips pertama: korang pegi habiskan skolah, kalau dah dropout pun, pinjam buku matematik adik.. baca! faham! mahirkan!tips kedua: belajar lagi, belajar… kasi asah otak korang tu supaya cepat berfikir. korang ingat orang yang jadi jutawan dengan main saham tu bengap bahlol bendul macam korang?? fikir elok elok bai, diorang kerja apa?? pakar ekonomi, penganalisa ekonomi.. grad pun jurusan bidang tu. beberapa kerat je yang bukan, tapi gua pasti tak wujud yang sekolah tak habis.tips ketiga: korang kena minat la ekonomi, baca berita baca paper.tips keempat: jangan pakai broker, jangan guna orang tengah. rugi bai, dah kata benda senang buat la sendiri. pernah tengok banner orang kata bole buat upah dia tolong main saham untuk korang? ingat mesej “berikan saya 1k hari ini, dalam masa 24jam je saya boleh gandakan kepada 10k” tu betul??? hanjeng dia betul!! iklan pun macam sial. tak menarik langsung design. gua rasa banner tu buat pakai free trial punya software. kalau broker tu berkata benar, takkan takleh upah profesional designer dengan upah rm 100 je, takkan tak mampu dengan untung juta juta.. lolz!! itu pun lagi korang mau percaya?
tips tambahan: kalau la kan, dah ikut semua petua gua tu, korang tetap gak rugi.. ni gua takleh nak kata apa la…. korang memang suel tahap gile gile punya shuiel dan dah di takdirkan takkan kaya. apakata pakai duit tu buat tanam jagung ka..bela lembu ka.. bukak kedai runcit kaa.. ada gak untung kan? tak pun tanak try ternak babi laaa.. gua dengar cite china nak export babi dari malaysia, macam negara china tu dah kehabisan rakyat susah untuk diorang majukan sektor penternakan babi kat negara sendiri, guna tanah dan rakyat sendiri — bongok jugak komunis ni
last sekali, kalau tak berjaya jugaklupakanla niat nak jadi kaya. dah memang nasib takkan kaya, makan gaji sudah…kasi anak sekolah pastu biar diorang jadi engineer/doktor/peguam lagi bagus la.......
sekian
p/s: sorry gua pun gak tau camana bole jadi off comment dan pingback. hahahaha nila jadiknya bila posting dalam keadaan kalut-

Friday, December 19, 2008

PTPTN = KAPITALISME


KADANG-KADANG saya terfikir bahawa sistem pendidikan negara Malaysia ini adalah manifestasi sistem kapitalisme tajaan Barat. Makna mudah sistem kapitalisme adalah kecenderungan ekonomi politik oleh golongan pemodal atau satu-satu institusi (capital) dalam menjana kekayaan tanpa diganggu oleh pihak kerajaan. Sistem kapitalisme ini percaya bahawa hanya pemodal mampu membangunkan prasarana negara. Namun, pengenalan dasar kapitalisme ini telah mewujudkan jurang hidup yang ketara antara golongan kaya dan miskin.
Sebagai contoh, dasar pinjaman PTPTN yang melahirkan golongan kaya agar terus kaya dan golongan miskin yang akan terus melarat. Contoh ini, saya akan jelaskan kemudian. Secara klasikalnya, dasar ini ditentang hebat oleh sosialisme/komunisme. Bagi pendukung aliran ini, rakyat seharusnya mempunyai hak mutlak dalam mentadbir negara dan segala produk atau kekayaan negara seharusnya menjadi milik bersama di kalangan rakyat. Sebagai contoh, tuntutan biasiswa / yuran percuma ke atas seluruh mahasiswa tanpa mengambil kira realiti beban pengurusan kewangan institusi berwajib dan kerajaan Malaysia oleh golongan di atas secara konseptualnya. Ulasan tentang sosialisme/kapitalisme di atas, saya tinggalkan dalam siri penulisan akan datang jika ada kesempatan. Fokus penulisan saya kali ini hanya berkaitan unsur kapitalisme dalam sistem yuran-pinjam di IPT. Sebenarnya, Islam juga menentang sistem kapitalisme dan tidak pula menyokong sistem sosialisme/komunisme. Ini melarang penganut/institusi/kerajaan Islam memonopoli kekayaan kerana dalam pemilikan kekayaan sebenarnya ada hak Allah, hak pemilik dan hak ummah. Islam tidak menerima konsep persamaan hak atau sama-rata sebagaimana yang dipegang oleh komunisme/sosialisme. Islam mendukung keadilan hak dengan meletakkan satu-satu hak sesuai dengan tempatnya.
Di Mana Unsur Kapitalisme dalam IPT?
Unsur kapitalisme ini dalam banyak bab sejak sebelum merdeka. Salah satunya adalah sistem biasiswa dan pinjaman yang diperkenalkan oleh kerajaan Malaysia dan diaplikasi oleh badan-badan tertentu termasuk IPT sendiri. Demi membangunkan negara Malaysia, kerajaan telah memperuntukkan sejumlah dana besar negara supaya rakyat Malaysia mampu menimba ilmu di peringkat pengajian tinggi. Peruntukan dana tersebut dikenali sebagai biasiswa dan kerajaan menganggap pemberian biasiswa ini sebagai suatu modal insan; bukan liabiliti kewangan negara.
Niat kerajaan pada ketika itu sangat jelas iaitu agar kepakaran oleh mahasiswa tersebut suatu hari nanti akan kembali dimanfaatkan demi pembangunan negara bangsa Malaysia.
Anak-anak tempatan sudah tentu sangat diperlukan dalam membangunkan negara terutama ketika baru-baru merdeka, 1957. Pada ketika itu, rakyat Malaysia mempunyai dua pilihan IPT sahaja. Pertama, melanjutkan pengajian ke luar negara dan sudah tentu besar kos pengajiannya.
Kedua, belajar di kolej-kolej tempatan yang rata-rata turut dipimpin oleh Inggeris. Kolej Perubatan King Edward VII (ditubuhkan 1905), Kolej Raffles (ditubuhkan 1929), Maktab Perguruan Sultan Idris (ditubuhkan 1922) merupakan antara IPT yang wujud sebelum merdeka. Walaupun Universiti Malaya wujud hasil sistesis Kolej Perubatan King Edward VII dan Kolej Raffles pada tahun 1949, namun polisi pentadbiran masih diputuskan oleh Inggeris. MPSI sendiri ditadbir oleh Inggeris sehingga 1958.
Malay College Kuala Kangsar (MCKK) hanya layak dimasuki oleh golongan elit kolonial dan elit Melayu sahaja. Anak pemilik estet, keturunan raja, anak kolonial sahaja mampu belajar di sana dengan menggunakan wang ibu bapa mereka kerana yuran pengajian cukup tinggi.
Anak-anak rakyat hanya mengintai peluang biasiswa yang ditawarkan oleh kerajaan pada ketika itu. Di kalangan mereka, ada yang dapat biasiswa dan ada yang tidak.
Walaupun demikian, cita-cita kerajaan adalah tenaga kepakaran mereka ini akan diserapkan ke sektor kerajaan. Ternyata, hasrat tersebut berhasil.
Formula kerajaan sangat mudah; kerajaan menyediakan biasiswa dan tenaga kepakaran patut kembali kepada sektor kerajaan selepas graduan. Formula ini terus digarapkan oleh kerajaan khususnya dalam pengenalan Dasar Ekonomi Baru (DEB). Biasiswa diberikan oleh badan-badan tertentu. Antaranya biasiswa kerajaan oleh Jabatan Perkhidmatan Awam; disebut sebagai biasiswa JPA. Biasiswa ini telah diberikan kepada hampir semua calon mahasiswa sehingga penghujung tahun 1990an. Jika tidak layak mendapat biasiswa, calon-calon mahasiswa mungkin membuat load bank atau sumber kewangan peribadi. Akta Tabung Pendidikan Tinggi Nasional mula diperkenalkan pada tahun 1997. Ini bermakna jumlah peruntukan biasiswa kepada komuniti mahasiswa Malaysia kian mengecil. Biasiswa JPA hanya diberikan kepada anak-anak penjawat kerajaan sahaja. Padahal ada pihak-pihak lain yang lebih memerlukan.
Golongan pak tani, penoreh, buruh kilang, pion swasta dan banyak lagi komuniti masyarakat miskin dan sederhana dibiarkan sahaja anak-anak mereka ini terus diikat dengan beban hutang yang dikenali sebagai PTPTN. Mungkin kerana mereka miskin, sebab itu mereka layak menerima PTPTN; kerana dasar kapitalisme memang mahu golongan kaya (kerajaan/PTPTN) terus kaya di atas kemiskinan rakyat termasuk dalam sektor pendidikan tinggi.
Anak-anak pegawai/kakitangan kerajaan dilayakkan menerima biasiswa JPA kerana mereka mewarisi status quo kapitalisme British sebelum merdeka. Hujah saya mudah, sistem kapitalisme dalam IPT dahulu dilihat melalui pengenalan yuran pengajian yang tinggi oleh kolonial ke atas seluruh mahasiswa Malaya. Sistem Kapitalisme sekarang dilihat melalui liabiliti hutang pengajian oleh PTPTN hanya kepada anak-anak pak tani, penoreh, buruh kilang, pion swasta dan banyak lagi komuniti masyarakat miskin dan sederhana; tidak pada elit negara yang disebut sebagai anak-anak pegawai/kakitangan/menteri dalam sektor kerajaan.
Kesimpulan Dan Saranan Saya Jelas, saya tidak bersetuju kerajaan memansuhkan biasiswa demi menjunjung konsep sama rata di kalangan rakyat Malaysia. Jika kerajaan memansuhkan biasiswa (khususnya JPA), kerajaan mungkin berjaya lari dari isu kapitalisme yang saya utarakan, namun sebenarnya kerajaan Malaysia sedar atau tidak sedang menuju sistem sosialisme IPT pula. Memansuhkan JPA juga adalah tindakan terkebelakang di sisi mata rakyat.
Apa yang boleh pihak kerajaan lakukan jika benar-benar jujur dengan kepentingan hidup mahasiswa adalah mengIslamkan semula sistem pendidikan IPT. Perubahan sekurang-kurangnya dilakukan dalam sistem yuran-pinjam IPT. PERTAMA, kerajaan patut memansuhkan dasar pengkorperatan Universiti. Jika dasar ini dimansuhkan, liabiliti dana pengurusan akan kembali ditanggung oleh kerajaan secara adil, bukan dipikul oleh mahasiswa yang rata-rata tiada sumber pendapatan asasi. KEDUA, hapuskan 3% riba dalam pinjaman PTPTN. Jika calon sarjana muda pinjam RM19500, secara asasnya patut dilangsaikan hutang sebanyak RM19500. Jika Qard al-Hassan, sepatutnya peruntukan caj perkhidmatan diikat pada kadar keperluan perkidmatan; bukan peratus (%) jumlah pinjaman. KETIGA, tawarkan biasiswa berdasarkan konsep keadilan hak (justice to right). Biasiswa sepatutnya diberikan pada pihak yang benar-benar memerlukan tanpa mengira warna kulit atau kepercayaan; bukan pada anak-anak kakitangan/pegawai/ menteri dalam sektor kerajaan. Ini konsep keadilan hak dalam sistem Islam. Jika tidak, benarlah sangkaan awal saya, bahawa sistem yuran-pinjam IPT di Malaysia dewasa ini sarat dengan unsur kapitalisme! -END (Faisal84)

Thursday, December 18, 2008

Tanah Runtuh Bukit Antarabangsa

Foto Dari Luar Red ZONE
Foto Dalam Red ZONE

Dari Atas Bukit


OOh man tidak!!!!Kita baru saja dikejutkan dengan tragedi tanah runtuh di Ulu Yam yang mengorbankan 2 beradik minggu lepas dan kejadian 11 kenderaan tertimbus dalam tanah runtuh di kawasan parkir antara Bangunan CIMB dan Bangunan Amanah Raya di Jalan Semantan. Nampaknya berlaku lagi satu kejadian tanah runtuh di Bukit Antarabangsa , Hulu Kelang yang mengegarkan ketenangan kawasan tersebut. Menurut sumber polis yang aku tahu daripada Ketua Polis Selangor iaitu Datuk Khalid Abu Bakar dia mengesahkan tanah runtuh di kawasan Bukit Antarabangsa, Hulu Klang telah mengorbankan 5 nyawa serta menimbuskan 14 buah banglo di Taman Bukit Mewah dan Taman Bukit Utama. Kejadian ini mengakibatkan jalan utama ke kawasan perumahan terbabit terputus dan beratus orang setakat ini dilaporkan terperangkap di Bukit Antarabangsa. Lokasi kejadian ialah kira-kira 1.5 kilometer dari Highlands Tower yang runtuh pada 11 Disember 1993 yang mengorbankan 48 mangsa. Persoalanya siapakah yang mesti bertanggungjawab terhadap masalah ini? Pihak berkuasa aku lihat lebih menganggap kejadian ini sebagai kecuaian pemaju manakala pemaju pula menyalahkan faktor alam sekitar......ohhh berdasarkan apa yang aku pelajari alam sekitar itu mengalami perubahan disebabkan MANUSIA jadi apa yang aku nampak kat sini manusia lah yang harus dipersalahkan so lu pikirlah sendiri.... Oleh itu nampaknya kejadian ini akan memberikan cabaran kepada pengamal-pengamal EIA dan SIA seperti aku untuk lebih fokus kepada alam sekitar dan memahami apakah itu sebenarnya alam sekitar...Insyallah sem depan akan ku fahami dengan mendalam apakah itu sebenarnya alam sekitar....FaisalMatPiah84

About This Blog

  © Blogger template 'Ultimatum' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP